Monday, December 30, 2013
CARA PEMESAN BUKU "VITAMIN S"
Buku kedua kami VITAMIN "S"
Membuka Tahun Baru 2014, kami akan meluncurkan buku kedua kami berjudul VITAMIN 'S' (101 Sales Magic Inspirations) yg akan dilaunching tepat tanggal 14-1-14 oleh Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Buku ini mengukir sejarah tersendiri, telah terjual 5000 copy melalui pre order, shg saat buku dicetak lgs mendapat stempel BEST SELLER
Sinopsis dan apa kata para endorsment ttg buku ini, silahkan unduhhttp://bit.ly/1dOmBEH
Tahun 2014 tahun penuh tantangan, saya sgt mendorong semua sahabat, pls INVEST IN YOURSELF.
Miliki, baca buku ini, yg akan melambungkan kesuksesan anda tahun 2014
Informasi harga dan cara pemesanan, pada bc berikutnya.
Terima kasih Sahabat.
Monday, December 9, 2013
3 ALASAN SESEORANG BERUBAH
Sebuah perubahan, bisa terjadi karena 3 faktor:
1. Individu berubah, karena ada rasa sakit (Pain)
Ada ancaman yang menyebabkan seseorang harus berubah.
Misalnya: Seseorang mau mengerjakan tugasnya dengan baik karena ada ancaman dipecat/dikeluarkan dari perusahaan.
2. Individu berubah karena rasa senang (Pleasure)
Perubahan karena ada sesuatu yang bisa didapatkannya berupa kesenangan.
Misalnya: Pemberian Bonus.
3. Seorang individu berubah, karena alasan spiritual, yaitu CINTA
Saat seseorang berubah karena CINTA, ia sudah tidak perduli lagi dengan nilai nilai yang sifatnya materialistis. Ia akan bergerak karena ia menganggap apa yang dilakukannya, sebagai sebuah perjalanan spiritual membuat Mahakarya Indah dalam setiap apa yang dikerjakannya.
Bagaimana pilihan Anda berubah?
Saya yakin karena pilihan ke 3, karena Cinta...
Salam hangat
JJ
Jakarta 9 Desember 2013
Sunday, December 8, 2013
PENDERITAAN SEBAGAI RAHIM PERTUMBUHAN
PADA FEBRUARI 1990 Nelson Mandela keluar dari penjara Pulau Robben, Afrika Selatan — Pulau Nusakambangan kalau di Indonesia — sesudah meringkuk selama 27 tahun di tutupan itu. Tokoh pejuang yang lahir pada 1918 ini dipenjarakan sejak 1962 karena aktivitas politiknya melawan rezim apharteid kulit putih.
Di penjara Mandela mengalami penderitaan yang sangat buruk, mungkin paling buruk yang bisa dibayangkan orang: sel kecil tanpa dipan, kerja paksa di siang hari, isolasi jika melawan, lapar sepanjang waktu karena ransum yang selalu minim, siksaan badan dan teror mental, serta rasa sepi berkepanjangan.
Pada tahun pertama di kurungan itu, ibunya meninggal dunia. Beberapa bulan kemudian putra sulungnya tewas dalam sebuah kecelakaan. Tetapi untuk pemakaman kedua kekasihnya itu, Mandela tidak beroleh izin menghadirinya. Lalu, putri bungsunya lahir tahun itu, tetapi Mandela baru diperkenankan melihatnya saat anak itu menginjak usia 17 tahun.
Mandela diisolasi total dari dunia luar. Dalam setahun Mandela hanya boleh menerima satu kunjungan saja, itupun dibatasi cuma tiga puluh menit. Per enam bulan ia hanya boleh menerima dan mengirim satu surat saja. Fotonya dilarang disebarkan. Tujuannya jelas: agar rakyat hitam Afrika Selatan melupakan Nelson Mandela. Sungguh luar biasa penderitaan Mandela. Kita akan maklum saja seandainya Mandela membiarkan dirinya berputus asa dan membusuk hancur oleh rajaman deritanya
Namun, sesudah 27 tahun disiksa, Mandela bukannya membusuk tetapi bertambah segar dan bugar. Mandela bahkan lahir sebagai manusia baru. Tanpa dendam dan sakit hati ia mampu memimpin kaumnya untuk berdamai dengan kaum penindas kulit putih. Mandela bahkan memilih bekerja sama dengan rezim Presiden FW de Klerk meruntuhkan dan membongkar sistem aphartheid itu sendiri.
Pada 1994 Mandela terpilih secara demokratis menjadi Presiden Afrika Selatan; pertama dalam sejarah panjang negeri itu, sesudah tahun sebelumnya Mandela bersama de Klerk dianugerahi Hadiah Nobel untuk Perdamaian. Maka dunia pun tercengang.
Pertanyaan kita, apa sesungguhnya yang terjadi dalam sel penderitaan Mandela sehingga ia bisa berubah lahir batin menjadi manusia baru; yaitu pasir penderitaanya berubah menjadi mutiara kemuliaan?
Menurut saya, sesudah membaca kitab otobiografinya, The Long Walk To Freedom, jawabnya cukup dirangkum dalam satu kalimat saja: Sel penderitaan di penjara Pulau Robben adalah rahim pertumbuhan yang membentuk dirinya, sehingga ketika saatnya tiba, ia pun lahir sebagai manusia baru.
Bagaimana caranya? Nelson Mandela menempuh jalan transendental.
Mandela tidak lagi melihat, merasakan, dan menghayati pengalaman penjara sebagamana biasanya: meremukkan dan menghancurkan sang narapidana, tetapi memilih menggunakan segenap indra batinnya, semua fakultas rohaninya, dan seluruh kapasitas transendentalnya untuk melakoni pengalaman penjaranya secara baru; positif dan konstruktif. Artinya, sel penjara yang bagi kebanyakan orang adalah ruang kematian, oleh Mandela ditransformasikannya menjadi ruang kehidupan, menjadi rahim pembentukan pribadinya yang baru.
Di penjara, Mandela mengubah dirinya dari seorang pejuang radikal yang tidak sabaran, nekat dan berangasan menjadi seorang negarawan yang bijak, berjiwa mulia, berhati pemimpin besar yang matang.
Di penjara, Mandela yang kenyang dengan siksaan penuh kezhaliman itu mentransendensikan seluruh tuntutan rasa keadilannya di dunia ini ke dalam paradigma keadilan Tuhan sehingga ia mampu mengampuni kaum penindas kulit putih itu sebelum seruan minta ampun datang. Berkatalah Mandela: tanpa pengampunan tidak ada masa depan bagi Afrika Selatan.
Di penjara, tanpa ngotot dengan solusi hukum Mandela mengambil tanggung jawab total atas seluruh kondisi yang dihadapinya dengan tidak pernah mau terpancing bertindak di bawah martabat dan harga dirinya sebagai manusia luhur ciptaan Allah. Ia menolak mengeluh atau mengaduh. Tak pernah ia bersikap cengeng. Ia pun pantang bersungut-sungut. Tak sudi ia mengemis belas kasihan dari sipir-sipir penjara walau cuma sepotong. Inilah yang membuat aura dirinya bersinar terang dan memancarkan wibawa moral yang sangat kuat sehingga cahayanya kemudian tidak saja menembus tembok-tembok penjara Pulau Robben tetapi bahkan jauh melampaui Afrika Selatan, sampai ke ujung-ujung dunia yang terjauh. Berkatalah Mandela: siapa pun yang berusaha merampas martabat diriku — entah institusi entah pribadi — kupastikan harus kalah.
Di penjara, menghadapi perlakuan nirmanusiawi dari para sipir, ia terus meneguhkan hatinya, dan dengan menggunakan segenap kecerdasan, keramahan, serta rasa humornya, ia memilih memberikan perlawanan moral tanpa kekerasan mengikuti teladan Mahatma Gandhi dan Martin Luther King. Inilah yang membuat sipir yang paling kejam pun akhirnya tunduk pada wibawanya dan dengan sendirinya menjadi pemimpin yang paling disegani di antara sesama narapidana.
Di penjara, Mandela memperjelas tujuan hidupnya, merenungkan takdir dirinya, dan merumuskan misi perjuangannya dengan sejernih-jernihnya. Berkatalah Mandela: Saya mengabdikan seluruh hidup saya bagi perjuangan rakyat Afrika. Saya berjuang melawan penindasan kulit putih dan akan berjuang juga melawan penindasan kulit hitam. Saya merindukan sebuah masyarakat berkebebasan yang demokratis di mana semua orang bisa hidup bersama dalam sebuah keharmonisan dengan kesempatan yang sama. Demi ideal inilah saya hidup dan akan saya perjuangkan terus hingga terwujud. Namun, jika diperlukan, saya juga bersedia mati demi ideal ini.
Di penjara, Mandela menukik jauh ke tingkat terdalam eksistensinya, ke ruang hatinya yang paling dasar, dan bertemu dengan Sang Penciptanya di sana. Oleh karenanya, hatinya pun menjadi tenteram dan damai. Ia bersaksi: keyakinannya tidak pernah melemah bahwa suatu hari ia akan bebas. Keyakinan inilah yang terus memberinya kekuatan. Berkatalah Mandela: Saya mengalami sendiri, bahwa kita mampu menanggung hal-hal yang sebenarnya tidak tertanggungkan jika kita dapat menjaga semangat juang tetap tinggi, meskipun tubuh ini disiksa. Iman yang kuat adalah rahasia kesanggupan menanggung segala kekurangan. Dan dengan humoris Mandela berujar: Semangatmu bisa penuh meskipun perutmu selalu kosong.
Penderitaan Mandela tidak berhenti sesudah ia menjadi presiden. Pada 1996 Mandela harus bercerai dengan Winnie karena sejumlah kasus kriminal yang menyangkut isteri keduanya tersebut. Namun Mandela, veteran penderitaan itu, bangkit lagi seperti biasa. Pada 1998, saat ulang tahunnya ke-80, Mandela menikahi Graca Machel, janda mantan presiden Mozambique. Bagaikan dongeng dalam buku cerita, demikianlah Mandela tampil menjadi salah satu legenda hidup terbesar abad 20, menurut majalah Time.
Jadi, mengulangi yang saya katakan di awal buku ini: Apabila Anda sedang menderita hari ini, apa pun jenisnya, apa pun sebabnya, bagaimana pun beratnya, saran saya hanya satu: bertahanlah! Bergurulah pada anak kerang. Belajarlah pada Mandela. Bersama Tuhanmu, ubahlah ruang penderitaanmu menjadi rahim yang penuh rahmat. Dan bersiap-siaplah menjadi insan luar biasa, menjadi manusia baru yang berhiaskan kerlap-kerlip mutiara kemuliaan: diri Anda yang baru.
Best Regards.

