Saturday, May 31, 2014

Untuk segala sesuatu berubah, saya berubah terlebih dahulu

Dari milis ada yang posting, bagus untuk di telaah dan dipelajari sendiri. 
Ditulis oleh arsitek kerajaan Inggris yang telah merancang Maha, Gereja Kathedral di London, bisa di ambil pelajaran berharga. 

UNTUK SEGALA SESUATU BERUBAH, SAYA HARUS BERUBAH TERLEBIH DAHULU. 

Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal
Aku bermimpi ingin mengubah dunia
Seiring dengan bertambahnya usia dan karifanku
Kudapati bahwa dunia tak kunjung berubah,
Maka cita-cita itu pun agak kupersempit,
Lalu kuputuskan hanya untuk mengubah negeriku,
Namun, tampaknya hasrat itu pun tiada hasil,
Tatkala usiaku makin senja,
Dengan semangatku yang masih tersisa,
Kuputuskan untuk mengubah keluargaku, orang-orang yang paling dekat
dengan ku
Sayangnya, mereka pun tak mau diubah
Kini, sementara aku berbaring menunggu ajal menjelang,
Tiba-tiba kusadar :
Andaikan yang pertama-tama kuubah adalah diriku,
Maka dengan menjadikan diriku sebagai teladan,
Mungkin aku bisa mengubah keluargaku,
Bisa jadi aku pun bisa memperbaiki negeriku,
Kemudian siapa tahu, aku bahkan bisa mengubah dunia.

UNTUK SEGALA SESUATU BERUBAH, SAYA HARUS BERUBAH TERLEBIH DAHULU. 

Sunday, May 25, 2014

ALL OUT or OUT !!



Orang-orang yang sangat optimis memandang segala masalah sebagai suatu tantangan bagi kecerdasannya, kepintarannya dan keyakinannya Ia terus berpikir, berdoa dan percaya. Ia tahu ada solusi dan akhirnya menemukannya. 
Solusi itu ada karena ia All out dalam setiap yang dilakukannya, tidak setengah-setengah. 
Rumus untuk sukses sangatlah sederhana, yaitu: SERIUS. 
Bahasa yang lebih gamblang dari serius adalah ALL OUT.

Tanpa ALL OUT, lebih baik seseorang OUT saja dari apa yang dikerjakannya. 
Mengapa? Karena ia hanya membuang waktu untuk sesuatu yang prosesnya tidak dihayati. 
 Intisari pekerjaan adalah penghayatan.
Orang yang tidak ALL OUT di aspek pekerjaan apa pun, pada dasarnya karena ia tidak menghayati. Padahal, pekerjaan bukanlah sekadar tanggung jawab. Namun, ada keagungan yang begitu dalam dari setiap apa yang kita lakukan. 

ALL OUT juga memiliki makna “I pay the price”. Saya membayar harganya
Setiap pencapaian hebat yang diperoleh manusia, pasti ada harganya. 
Kerja keras, hanyalah salah satu harga dari yang namanya ALL OUT. 

Seorang sahabat saya mengatakan dengan sangat gamblang: “Kalau mau sukses, kalau mau mencapai apa pun yang diinginkan, yang perlu Anda lakukan adalah ALL OUT berusaha dan ALL OUT berdoa”. Kalau dua hal itu sudah Anda lakukan, hasil akan segera berdatangan.

Selain itu, ALL OUT juga dimaknai dengan cinta terhadap pekerjaan yang Anda lakukan. 
Seseorang yang melakukan pekerjaannya dengan cinta, artinya ia telah bekerja dengan sangat All OUT. 
Poin mengenai pekerjaan penuh cinta ini, menjadi salah satu poin utama dalam buku suci Bhagavad Gita: “Bila Anda tidak melakukan pekerjaan yang Anda cintai, itu berarti Anda sedang menggelapkan jiwa Anda. Karena itu, cintai apa yang sedang Anda kerjakan”. 

Pernyataan itu sangatlah menohok ke jantung hati kita. Perlu selalu kita renungkan kembali hakikat kita dalam bekerja. Saat Anda melakukan pekerjaan dengan penuh cinta, tunggulah kejutan-kejutan dalam hidup Anda. Sebuah kehidupan yang sangat menyenangkan. Bukan karena hasil yang Anda dapatkan, namun proses yang Anda lakukan begitu sangat memberikan kebahagiaan tersendiri. 

ALL OUT or OUT adalah sebuah mindset. Kerangka berpikir seorang pemenang. Sang pemenang, tidak akan pernah melakukan pekerjaan setengah-setengah. Ia sangat paham, ketika ia harus melakukan sesuatu, ia akan selalu berteriak lantang: “I do whatever it takes”. Saya lakukan apa saja untuk membuat hal ini terjadi. Saya bisa mengatakan orang sales sangat perlu semangat ini. Sales yang berhasil bukan semata mata karena ia pintar dan cerdas, namun karena mentalitas yaitu mentalitas pemenang, mentalitas juara, mentalitas champion.
ALL OUT adalah mengenai mentalitas. Mengenai ketangguhan seorang sales person untuk mengejar goal dan merealisasikan semua mimpi mimpi yang ia sudah tetapkan. 
Sekali lagi... ALL OUR or OUT!!

Kesalahan Kesalahan Dalam Berkomunikasi

Cara kita berkomunikasi dengan orang lain adalah sebuah kebiasaan. Karenanya, seringkali kita tidak mengetahui apakah pola percakapan yang kita lakukan sudah baik atau belum baik.

Dalam kehidupan sehari-hari pasti anda sering berkata dalam hati : ”ah tidak enak mengobrol dengan si A, lebih enak saya mencari si B dan mengobrol dengannya.”

Saya tidak tahu anda sendiri masuk ke dalam kategori mana : si A ataukah si B, mudah-mudahan bukan si A karena si A biasanya selalu dijauhi oleh teman-temannya.

Andai saja anda masuk dalam kategori si A, anda tidak perlu khawatir karena pola percakapan yang kurang baik tentu saja dapat diperbaiki. Di bawah ini adalah beberapa kesalahan yang umum dilakukan oleh orang-orang dalam percakapan beserta beberapa solusi untuk memperbaikinya.

1. Tidak Mendengarkan

Sebagian besar orang bukanlah tipikal pendengar yang baik. Ini tentu saja berhubungan dengan ego mereka yang tinggi, yang justru ingin lebih didengarkan dibanding mendengarkan. Dalam setiap percakapan mereka sepertinya tidak tahan menunggu giliran untuk berbicara.

Belajarlah menekan ego anda untuk mendengarkan secara sungguh-sungguh apa yang orang lain katakan.

Ketika anda mengambil sikap untuk mulai mendengarkan, anda sedang membuka jalan untuk terciptanya suatu hubungan (apapun) yang sangat potensial. Namun tetap hindari jawaban singkat “ya” atau “tidak”, karena jika anda seperti itu lawan bicara anda akan memberikan informasi setengah-setengah kepada anda. Antusiaslah terhadap topik yang sedang mereka bicarakan, sebagai contoh, jika lawan bicara anda sedang bercerita tentang pengalamannya mendaki gunung pada akhir minggu lalu, anda dapat bertanya kepadanya :

  • gunung apa yang anda daki?
  • apa yang ada sukai dari mendaki gunung?
  • apa saja yang anda lakukan di atas gunung?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu akan membuat topik percakapan menjadi lebih mendalam, lebih menarik, serta memancing lebih banyak lagi topik untuk didiskusikan. Dan yang tak kalah pentingnya lawan bicara anda mengetahui bahwa anda sungguh-sungguh sedang mendengarkannya. Hal ini tentu saja akan membuat tingkat respek lawan bicara anda bertambah pada anda.

2. Terlalu Banyak Bertanya

Beberapa pertanyaan dapat berarti anda antusias dengan lawan bicara anda, namun terlalu banyak bertanya pun akhirnya menjadi tidak baik karena sepertinya anda sedang menginterogerasi lawan bicara anda, dan dapat membuat mereka menjadi tidak nyaman.

Cobalah gabungkan antara pernyataan dan pertanyaan, misalkan :

  • saya pun minggu lalu berakhir pekan dengan memancing bersama teman-teman kerja saya. Apakah anda suka memancing?

3. Kehabisan Topik Untuk Dibicarakan

Dalam percakapan mungkin anda sering merasa kehabisan topik untuk dibicarakan dengan lawan bicara anda, terutama jika anda berbicara dengan seseorang yang baru saja anda kenal. Untuk mencegah hal ini terjadi, ada beberapa saran mengenai topik yang bisa anda bicarakan :

  • Seorang bijak pernah berkata “Jangan tinggalkan rumah tanpa membaca surat kabar terlebih dahulu. Jika anda kehabisan topik untuk dibicarakan, anda bisa memulai berbicara tentang berita yang sedang hangat saat ini.”
  • Bicarakan tentang sesuatu yang berada disekeliling anda. Mungkin tentang aquarium yang berada dibelakang anda, anak-anak yang sedang bermain di samping anda, atau apapun saja yang memungkinkan untuk dibicarakan di sekeliling anda.

4. Penyampaian yang Buruk

Salah satu hal yang paling penting dalam percakapan bukanlah apa yang anda katakan, melainkan bagaimana anda menyampaikannya. Perubahan dalam kebiasaan ini akan membuat perbedaan besar, karena suara dan bahasa tubuh adalah bagian yang sangat vital dalam percakapan. Beberapa hal dibawah ini untuk anda pertimbangkan :

  • Sampaikan dengan perlahan. Ketika anda berbicara tentang suatu hal yang sangat menyenangkan, mudah sekali bagi anda untuk memulai percakapan tersebut dan bahkan anda dapat berbicara dengan sangat cepat. Usahakan anda memperlambat kecepatan bicara anda, karena akan lebih mudah bagi lawan bicara anda untuk mendengarkan dan menangkap maksud yang ingin anda sampaikan.
  • Bicaralah dengan suara lantang. Tidak perlu ragu, karena lawan bicara anda memang ingin mendengarkan anda.
  • Bicaralah dengan jelas. Jangan seperti bergumam.
  • Bicaralah dengan suara yang tidak monoton. Libatkan emosi dalam suara anda.
  • Gunakan jeda. Penyampaian dengan perlahan ditambah dengan jeda akan membuat lawan bicara anda lebih perhatian dalam mendengarkan dan suasana pun menjadi lebih rileks.
  • Gunakan bahasa tubuh yang baik. Dalam artikel mendatang, saya akan membahas bagaimana menggunakan bahasa tubuh yang baik.

5. Menginterupsi

Apakah yang anda rasakan jika pembicaraan anda dipotong oleh lawan bicara anda? … Ya, lawan bicara anda pun akan merasakan hal yang sama jika anda memotong pembicaraannya. Biarkan lawan bicara anda menghabiskan terlebih dahulu apa yang ingin disampaikan. Itu adalah salah satu bentuk penghargaan anda pada lawan bicara anda. Carilah keseimbangan antara mendengarkan dan berbicara.

6. Keinginan “Selalu Benar”

Orang tidak akan terkesan kepada anda jika anda selalu ingin merasa benar dalam setiap percakapan. Seringkali pembicaraan bukan betul-betul sebuah diskusi. Kadang-kadang kita ingin menjaga mood tetap baik dengan berbicara dengan seseorang. Sebagai contoh : salah satu teman anda ingin bercerita kepada anda mengenai serunya pengalaman berarung jeram sampai-sampai perahu karetnya terbalik. Namun anda malah berbicara bagaimana berarung jeram yang baik. Saya yakin mood teman anda akan langsung berubah.

Duduklah santai, berbicara dan tidak berdebat.

7. Berbicara Tentang Hal-Hal Aneh atau Negatif

Pernahkan anda berkenalan dengan seseorang dan setelah itu ia berbicara tentang hal-hal aneh atau negatif, seperti kesehatannya yang memburuk, cerita pembunuhan, atasannya yang menyebalkan, atau menggunakan bahasa aneh yang hanya ia dan temannya yang mengetahui artinya.

Saya rasa tidak ada manfaatnya berbicara hal-hal aneh atau negatif seperti itu. Orang-orang akan senang berbicara kepada anda jika anda selalu memberikan energi positif dalam setiap kata-kata yang anda keluarkan.

8. Membosankan

Jangan bercerita panjang-panjang tentang mobil anda yang baru saja anda beli atau rumah anda yang baru saja selesai dibangun. Rata-rata orang tidak terlalu tertarik dengan cerita semacam itu, yang terlalu mengekspose kemampuan diri. Carilah topik yang mengarah pada hal-hal yang bergairah atau hal-hal yang lucu misalkan. Bisa juga anda menceritakan tentang pengalaman anda berakhir pekan di puncak kemarin atau rencana anda pada liburan Lebaran mendatang. Intinya adalah sesuatu yang positif. Bukan juga mengeluh tentang atasan atau pekerjaan anda.

Dale Carnegie pernah berkata :
”Dalam 2 bulan anda akan mempunyai lebih banyak teman dengan cara antusias terhadap cerita-cerita mereka dibandingkan 2 tahun anda mencari teman dengan cara berusaha memancing mereka tertarik pada cerita-cerita anda.”

Cobalah memberi peran lebih dalam berbicara untuk lawan bicara anda. Kelak anda akan membangun sebuah hubungan yang berkualitas.

Mungkin anda sudah sering mendengar istilah “mengapa Tuhan menciptakan 2 telinga dan 1 mulut? … agar kita lebih banyak mendengarkan dibanding berbicara. :)

9. Tidak Merespon Dengan Baik

Jika seseorang bercerita tentang pengalamannya, jangan sekedar mengangguk atau menjawab dengan kalimat singkat. Terbukalah dan katakan apa yang anda pikirkan. Ekspresikan perasaan anda.

Sebagai penutup, anda tidak harus memperbaiki ke-9 langkah diatas secara sekaligus. Pilihlah kira-kira 3 hal terpenting yang menurut anda perlu diperbaiki dan selama 3-4 minggu anda berusaha melakukan hal tersebut secara terus menerus sampai akhirnya menjadi suatu kebiasaan.

Mudah-mudahan tips percakapan ini bermanfaat bagi anda sehingga kelak anda dapat menjadi teman bicara yang baik bagi teman-teman atau pasangan anda. 


DISADUR dan DISARIKAN dai berbagai sumber di internet, Semoga bermanfaat untuk pembaca. Salam. 

Friday, April 11, 2014

Kreatif Memecahkan Masalah

Kreatif Memecahkan Masalah.. 

Saya menginap di sebuah wisma di kota Majalengka malam ini, besok akan melayani BRI di kota ini. Sambil beristrahat di kamar, saya menemukan artikel menarik di internet, tentang betapa kita sering menghabiskan banyak sumber daya, biaya, waktu untuk memecahkan sebuah masalah, yang ternyata penyelesaiannya amat sangat sederhana. 

Ini dua kasus sbg contoh menarik, 

Selamat membaca, dan semakin kreatif memecahkan masalah. 

Majalengka 11 April 2014 
---- 

Kasus 1 

Ketika NASA mengirimkan astronotnya ke luar angkasa, mereka menemukan fakta bahwa ternyata pena tidak bisa digunakan pada gravitasi nol (tinta tidak akan tertarik keluar). Untuk memecahkan masalah ini, mereka melakukan penelitian selama kurang lebih 1 dekade dan menghabiskan biaya sebesar $12 juta (setara dengan Rp.120 milyar dengan kurs $1=Rp.10.000,-).

Mereka merancang sebuah pena yang dapat digunakan pada gravitasi nol, menghadap keatas, bahkan di dalam air, pada permukaan apapun (termasuk kaca) dan suhu dingin 300 derajat celcius dibawah nol.

Dan Apa yang orang Rusia lakukan? 

Mereka menggunakan pinsil ……

Kasus 2

Salah satu studi kasus yang paling terkenal dalam manajemen Jepang adalah kasus kotak sabun yang kosong, yang terjadi di perusahaan kosmetik terbesar di Jepang.

Perusahaan tersebut menerima keluhan dari konsumen bahwa sabun yang mereka beli ternyata kosong.
Dengan segera bagian keluhan pelanggan terjun langsung ke lapangan menuju bagian pengemasan produk. Bagian pengemasan produk adalah lini terakhir dari proses produksi sebelum menuju bagian pengiriman produk.
Mereka kemudian menemukan bahwa ternyata memang ada kotak sabun yang kosong yang melewati bagian pengemasan, dengan beberapa alasan.
Manajemen kemudian meminta para insinyurnya untuk memecahkan masalah ini. 

Para insinyur tersebut segera melakukan penelitian. Mereka bekerja sangat keras dan akhirnya menemukan mesin X-ray dengan resolusi tinggi yang dioperasikan oleh 2 orang untuk mengamati semua kotak sabun yang lewat, untuk memastikan bahwa kotak sabun tersebut tidak kosong.
Tidak perlu diragukan lagi hasil yang mereka capai. Mereka telah bekerja sangat keras dan cepat, namun mereka juga menghabiskan biaya yang tidak sedikit.

Di bagian tempat yang lain, sebuah perusahaan dengan skala yang jauh lebih kecil menemukan permasalahan yang serupa. Namun mereka tidak menggunakan mesin X-Ray yang sangat rumit. Mereka mencoba melakukan pemecahan dengan cara yang berbeda.
Mereka membeli sebuah kipas angin khusus yang sangat kuat dan menaruhnya pada suatu titik di bagian pengemasan. Setelah kipas angin tersebut dinyalakan, maka setiap kotak sabun yang kosong dan melewati kipas tersebut akan segera terbang tertiup angin.

Apa pesan yang ingin disampaikan dari 2 kasus diatas?

Temukan segala kemungkinan pemecahan-pemecahan masalah dengan sederhana. Mulailah belajar kreatif memecahkan masalah dan selalulah fokus pada solusi, bukan pada masalah.


Friday, March 7, 2014

Liputan dari event Bedah Buku di BI

Liputan dari Event Bedah Buku di Bank Indonesia 

Buku : SALES IN YOU 
Penulis : Remaja Tampubolon 
Penerbit : Gramedia 

Orangnya energik dan humoris, namanya “Remaja Tampubolon” biasa dipanggil  “Jaja”.  
Perawakannya sedang, kulit kuning langsat,  wajahnya tampan. 

Siang itu Jaja menjadi nara sumber diacara Meet The Author, bedah buku “Sales In You”, yang diselenggarakan Departemen Pusat Riset dan Edukasi Bank Sentral (PRES) di Perpustakaan Bank Indonesia, pada hari Rabu tanggal 5 Maret 2014. 

Lebih dari 20 tahun berkarir didunia sales perbankan, dari pengalamannya tersebut Jaja melakukan share dengan penuh energi kesegala penjuru. 
Melalui berbagai training dan seminar, baik pada dunia perbankan maupun non perbankan. 



Mengapa dia membagi ilmunya pada orang, itu semuanya didasari semata-mata  karena Tuhan, menurutnya semua yang ia berikan dan lakukan adalah amal dan ibadahnya pada Tuhan. Dan orang yang sukses menurutnya bukan seberapa banyak yang ia terima, tapi berapa banyak yang ia berikan pada orang lain. 



Nilai-nilai yang diwariskan oleh pemimpinnya dulu saat memulai tugasnya didunia perbankan, menjadi modal utamanya untuk meneruskan tongkat pada orang lain. Sebagai pemimpin perbankan, semua pemimpinnya, bukan meninggalkan angka-angka profit, jumlah nasabah, jumlah dana, jumlah pinjaman, tetapi mereka semua meninggalkan “nilai-nilai perusahaan”. Sebuah kalimat yang saat ini semakin langka didengar, dikumandangkan dan dicari. Kebanyakan pemimpin saat ini tidak membentuk dan membangun nilai2 perusahaan, tetapi nilai pribadi untuk menciptakan angka-angka guna memenuhi ambisinya yang ada. 



Semua manusia pernah mendengar kata vitamin. Pengertian vitamin adalah bahan organik yang sangat diperlukan oleh tubuh. Vitamin memiliki peran sebagai pengawal kesehatan dan mencegah penyakit. 

Dia menciptakan vitamin S, “sales”. Apa sih sales itu ? menurut Jaja sales adalah orang-orang yang bergerak, mendapat asupan dari orang-orang yang berpengalaman, dengan harapan menyehatkan. 

Melalui bukunya Jaja membagi pengalaman yang dimiliki. Buku vitamin S ini akan menjadi  sahabat yang memberikan motivasi dan inspirasi dalam perjalanan kita melakukan proses jual diri. Dengan kata lain kita harus bisa menjual diri menjadi aura yang positif  disegala bidang, dengan menerapkannya dalam tindakan bukan menyimpan nilai kita dalam tabung pikiran. Action now, get the result now. 


Selling is a process (menjual adalah proses), yaitu menjalankan rangkaian kegiatan dengan benar, jika kita menjalankan setiap tahapan dalam proses penjualan dengan benar, kita memiliki kesempatan besar untuk dapat menjual dengan lebih baik.  

Selling is all about having good interpersonal communication & relationship (Menjual adalah tentang hubungan dan komunikasi inter-personal). Penjualan adalah masalah kemampuan komunikasi dan membina hubungan. Kita adalah mahluk sosial. Kita membuat keputusan lebih karena emosi dibandingkan rasional. 


Selling is all about discipline, penjual yang berhasil selalu melakukan dengan konsisten dan disiplin hal-hal yang tidak dilakukan oleh penjual yang tidak berhasil. 

Untuk menjadi penjual yang berhasil, maka salah satunya kita harus berubah. Berubah dalam arti yang positif. 


Seseorang mau mengerjakan tugasnya dengan baik karena ada ancaman dipecat dari perusahaan. Perubahan karena ada sesuatu yang bisa didapatkannya berupa kesenangan. 
Seorang individu berubah, karena alasan spiritual, yaitu cinta. Saat seseorang berubah karena cinta, ia sudah tidak perduli lagi dengan nilai nilai yang sifatnya materialistis. Ia akan bergerak karena ia menganggap apa yang dilakukannya, sebagai sebuah perjalanan spiritual membuat Mahakarya Indah dalam setiap apa yang dikerjakannya. Rumus perubahan yaitu Peristiwa(P) + Respon(R) = Hasil (H) 


Saat kita melakukan “petualangan” dalam penjualan, pastikan kita siap dengan segala “peralatan” yang diperlukan. Antara lain mental, sikap, pengetahuan, ketrampilan, dan life support (keluarga). Karena pendukung kehidupan, bisa ada di sekitar kita, salah satunya adalah keluarga. 

Kalau kita memiliki impian, lebih baik kita bagi impian dengan keluarga. Yakinkan keluarga, bahwa kita bersungguh-sungguh sehingga mereka dengan mudah dapat memberikan dukungan. Tanpa dukungan dari orang-orang terdekat yang kita cintai, kita memang mampu untuk mencapai impian yang kita inginkan. Namun, akan lebih mampu lagi kalau ada dukungan dari mereka. 

Mari kita berubah atas dasar cinta, sehingga semua yang kita jual akan menjadi maksimal, tujuannya adalah kepuasan spiritual. Sehingga taka ada batasan kita menjual diri, karena perubahan yang kita lakukan semata-mata adalah untuk kebaikan dan ridho Tuhan Sang Pencipta.

Tulisan ini adalah tulisan Bapak Tubagus Al Amin, salah seorang peserta dinacara tsb. 

Sunday, February 2, 2014

Sekilas isi buku VITAMIN S


Kita semua pernah mendengar kata “vitamin”. 

Dalam sebuah ensiklopedia, pengertian vitamin adalah bahan organik yang sangat diperlukan oleh badan. 

Vitamin memiliki peran sebagai pengawal kesehatan dan pencegah penyakit. Vitamin biasanya disebut sebagai micronutrient. Vitamin dapat membantu pertumbuhan proses protein, karbohidrat dan lemak dalam tubuh. 

Saya menciptakan istilah “Vitamin S”. 
Tentu saja, “Vitamin S” tidak ada dalam daftar gizi. 

Lalu, apa itu “Vitamin S”? 
“S” disini adalah SALES. 

Menurut saya, orang-orang yang bergerak 
dalam bidang sales memerlukan juga suntikan vitamin dari orang yang sudah lama berkecimpung di dunia sales. Untuk itulah buku ini saya maksudkan. 

Harapan saya, buku ini dapat menjadi “vitamin” yang menyehatkan bagi siapa saja yang bergerak di bidang sales. 

Saya sendiri, lebih dari 25 tahun telah mendedikasikan hidup saya untuk dunia sales yang sangat saya cintai ini. Melalui buku ini, saya ingin membagi pengalaman yang saya miliki.

Buku VITAMIN S ini akan menjadi sahabat Anda yang memberikan motivasi dan inspirasi dalam perjalanan Anda melakukan proses penjualan. 

Setiap bab dalam buku ini muncul seperti sebuah suntikan untuk tubuh Anda. 
Saat Anda loyo atau saat Anda malas melakukan aktivitas, bacalah setiap bab dalam buku ini, bisa jadi, Vitamin S ini mampu menjadi pengawal semangat Anda dan menjadi pencegah agar Anda tidak putus asa dalam berproses di bidang sales.

Semoga buku ini bisa Anda nikmati. Saya harap, ia tidak ha- nya menjadi kumpulan teori belaka. Impian saya, kehadirannya mampu membuat Anda menjadi salah satu salesman terbaik di Indonesia bahkan di dunia. 

Saya sangat yakin sekali, setiap bab dari buku ini akan sangat bermanfaat untuk kita semua. Resapi, hayati, jalani. 

Jangan biarkan setiap isinya Anda baca begitu saja. Kalau perlu, ambil buku catatan khusus sehingga jika ada pencerahan, Anda bisa langsung menuliskannya. Kemudian, Anda tindak lanjuti dengan tindakan, karena hanya melalui tindakanlah, manfaat buku ini menjadi nyata.

Sebagai penutup, coba renungkan kata-kata Martin Luther King Junior, 

“Jika kita tidak bisa terbang, kita berlari. 
Jika kita tidak bisa berlari, kita berjalan. 
Jika kita tidak bisa ber- jalan, kita merangkak.” 

Selamat Membaca. 
Semoga bermanfaat.

Penulis : 
Remaja Tampubolon

#untuk pemesanan 





Sunday, January 19, 2014

MANAGER atau LEADER??

MANAGER vs LEADER 

Seringkali peserta pelatihan / seminar mengatakan MANAGER adalah mereka yang berada di level middle management dan LEADER adalah mereka yang berada di posisi / hirarki puncak perusahaan, seperti direksi, komisaris, CEO, dlsbnya. 

Terkadang ada juga peserta pelatihan / seminar yang mengatakan MANAGER dan LEADER sama.

Mari kita telaah lebih lanjut.

MANAGER (manajer) adalah seseorang yang MENGELOLA dan MENGATUR SUMBER DAYA. Sumber daya tersebut dapat berupa uang, asset, orang, stok, metode kerja, dan waktu.

LEADER (pemimpin) adalah orang yang menginspirasi dan memotivasi timnya untuk mencapai lebih.

Seorang MANAGER belum tentu adalah seorang LEADER dan seorang LEADER tidak harus menduduki posisi atau jabatan tertentu.

Anda adalah seorang MANAGER bisa jadi karena Anda ditunjuk / diangkat untuk menduduki posisi tersebut. 

Tetapi anda menjadi seorang LEADER ketika pribadi, karakter, pengetahuan, dan keterampilan Anda dikenali dan diterima oleh mereka yang Anda pimpin. Sehingga bawahan Anda bukan lagi melakukan apa yang Anda minta hanya karena Anda adalah atasan mereka tetapi lebih kepada karena mereka menyukai dan respek terhadap Anda. PENGARUH harus Anda peroleh lewat KEPEMIMPINAN Anda.

Menurut John C. Maxwell, “KEPEMIMPINAN adalah tentang perilaku dan sikap Anda bukan titel. KEPEMIMPINAN adalah tentang PILIHAN atau KEPUTUSAN yang Anda buat bukan TEMPAT atau POSISI yang Anda miliki.”

Orang-orang akan mengikuti LEADER yang mereka kagumi dan hormati. Demikianlah hukum alam bekerja.

Untuk menjadi seorang GREAT LEADER, Anda perlu mengubah paradigma dari “Saya mau JABATAN di mana semua orang mengikuti saya” menjadi “Saya mau menjadi ORANG yang diikuti banyak orang”. Kebanyakan MANAGER merasa sudah berada di zona aman (take for granted), yaitu dengan posisi / jabatan yang dimiliki akan membuat bawahan mereka ‘patuh’ dan mengikuti mereka. Bisa saja bawahan ‘patuh’ dan mengikuti tapi ketika dilakukan karena terpaksa tentu tidak akan bertahan lama atau tidak akan efektif.

Konsekuensi dari hal tersebut adalah Anda harus mengembangkan dan meng-upgrade kemampuan diri Anda terus-menerus sehingga dapat terus menginspirasi dan memotivasi tim Anda untuk mencapai lebih.

Jadi, apakah Anda adalah seorang LEADER atau MANAGER?

4 PRINSIP DASAR MENJUAL

4 Prinsip Dasar Menjual 

1. Selling is a process (Menjual adalah proses) 
Seperti halnya aktivitas lain, penjualan adalah sebuah proses. Penjualan adalah mata rantai dari kegiatan–kegiatan lain. Jika Anda menjalankan rangkaian kegiatan dengan benar, atau jika Anda menjalankan setiap tahapan dalam proses penjualan dengan benar, Anda memiliki kesempatan besar untuk dapat menjual dengan lebih baik

2. Selling is a numbers game (Menjual adalah permainan angka)
Penjualan adalah permainan angka. Sebenarnya, penjualan didasarkan atas Hukum Rata–rata. Lebih banyak prospek, lebih besar kesempatan Anda. Lebih banyak Anda menawarkan, lebih besar kemungkinan Anda melakukan closing. Lebih banyak pelanggan bahagia yang Anda miliki, lebih besar kesempatan bagi Anda untuk memperoleh referensi dari mereka. Ini hanya masalah “semakin banyak….semakin baik.”

3. Selling is all about having good interpersonal communication & relationship (Menjual adalah tentang hubungan dan komunikasi inter-personal)
Penjualan adalah masalah kemampuan komunikasi dan membina hubungan. Kita adalah mahluk sosial. Kita membuat keputusan lebih karena emosi dibandingkan rasional. 

Mari lihat alasan–alasan seseorang menjadi nasabah sebuah perusahaan. Contohnya dalam industri asuransi, proporsinya adalah sebagai berikut :

Membeli karena perusahaannya : 20%
Membeli karena produknya            : 20%
Membeli karena agen asuransinya  : 60 %

4. Selling is all about discipline (Menjual adalah masalah disiplin)
Penjualan adalah masalah disiplin. Inilah perbedaan antara penjual sukses dan penjual tidak sukses: Succesful sales people have learnt to do well thing that unsuccessful sales people do not like to do. Penjual yang berhasil selalu melakukan dengan konsisten dan disiplin hal-hal yang tidak dilakukan oleh penjual yang tidak berhasil. 

Sudah bukan rahasia lagi, penjual yang sukses lebih disiplin dan mereka tetap mengerjakan hal-hal yang seharusnya mereka lakukan (walaupun kadang–kadang mereka tidak menyukainya). 
Di sisi lain, penjual yang tidak sukses akan mencoba mencari 1001 alasan untuk menghindar dari pekerjaan yang seharusnya mereka lakukan, karena mereka tidak suka mengerjakan hal tersebut. 
Sales is often a case of doing what you have to do, not only what you like to do (Penjualan adalah masalah melakukan sesuatu yang harus dilakukan, secara konsisten, tidak hanya sesuatu yang Anda senang untuk melakukannya). 

HAPPY SELLING 
#SALES IN YOU 
#VITAMIN S